Senin, 10 Februari 2014

Reposisi Pemuda dalam Pengembangan Ekonomi Umat


Dengan dorongan peran pemuda, perjuangan penegakan kembali aturan Allah di muka bumi ini akan berlangsung giat sehingga Islam kembali tegak.

Dalam sejarah perjuangan, dakwah dan pengembangan Islam, pemuda berperanan sangat penting. Pemuda merupakan garda depan perjuangan meraih cita-cita. Perbaikan situasi dan keadaan masyarakat yang porak poranda selalu menghadirkan sosok pribadi tangguh: para nabi dan rasul. Mereka diutus Allah untuk menyampaikan ajaran agama. Mereka terpilih dari kalangan pemuda yang rata-rata berusia sekitar 40 tahun. Dalam Al-Quran terdapat banyak kisah keberanian pemuda. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika diangkat menjadi rasul berumur 40 tahun. Pengikut beliau, generasi pertama, kebanyakan juga dari kalangan pemuda. Bahkan ada yang masih kanak-kanak.

Dalam perjuangan mendakwahkan Islam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibantu para sahabat muda. Para pemuda tersebut dibina Rasulullah setiap hari di Daarul Arqam. Di antaranya Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam, yang paling muda ketika itu – keduanya berumur 8 tahun. Juga Thalhah bin Ubaidillah (11 tahun), Al-Arqam bin Aabi Al-Arqam (12), Abdullah bin Mas’ud (14), yang kelak menjadi penglima perang yang menundukkan Persia. Juga Jafar bin Abi Thalib (18), Zain bin Haritsah (20), Utsman bin Affan (20), Mush’ab bin Umair (24), Umar bin Khaththab (26), Abu Ubaidah Ibnu Jarah (27), Bilal bin Rabbah (30), Abu Salamah (30), Abu Bakar Ash-Shiddiq (37), Hamzah bin Abdul Muthalib (42), dan Ubaidah bin al Harist yang paling tua (50).
Mereka pemuda gagah berani yang hidupnya didedikasikan hanya untuk kejayaan Islam seperti itulah yang sanggup memikul beban dakwah dan bersedia berkorban serta menghadapi berbagai siksaan dengan penuh kesabaran. Mereka mendapatkan kebaikan, rahmat dan ampunan dari Allah. Mereka-lah yang disebut orang beruntung.
Namun bila kita lihat belakangan ini, umat Islam masih dililit sejumlah permasalahan krusial, khususnya masalah kemiskinan. Oleh karena itu, pemuda harus tampil terdepan dalam kaitan dengan pengembangan ekonomi umat, dalam rangka mengurangi kemiskinan di kalangan umat Islam dewasa ini.
Pemuda dalam Al-Quran dan Hadis
Dalam Al-Quran, kata pemuda diistilahkan dengan fatan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala dalam QS. Al-Anbiya: 60 tentang pemuda Ibrahim, yang artinya: "Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim'."Al-Quran dalam menjelaskan kisah pemuda Ashabul Kahfi menggunakan kata fityah (pemuda-pemuda) sebagai bentuk jamak dari kata fatan. Sebagaimana Allah firmankan dalam QS. Al-Kahfi: 13, yang artinya, "Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya, mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk."
Kata pemuda dalam hadis disebut dengan istilah syaabun. Hadis yang berkaitan dengan pemuda antara lain HR. Imam Bukhari yang disebutkan, di antara tujuh kelompok yang akan mendapatkan naungan Allah Subhanahu wa ta’ala pada hari ketika tak ada naungan, selain naungan-Nya, adalah syaabun nasya'a fii 'ibaadatillaah (pemuda yang tumbuh berkembang dalam pengabdian kepada Allah Subhanahu wa ta’ala).
Sehubungan dengan pentingnya eksistensi dan peranan pemuda Al-Quran ataupun hadis, banyak mengungkapkan karakteristik sosok pemuda ideal yang harus dijadikan teladan oleh pemuda yang bercita-cita sebagai pemimpin yang sukses. Karakteristik tersebut adalah:
Pertama, pemuda harus memiliki keberanian (syaja'ah) dalam menyatakan yang benar(haq) itu benar (haq) dan yang batil (salah) itu batil (salah). Lalu siap bertanggung jawab serta menanggung risiko ketika mempertahankan keyakinannya. Allah memberikan contoh seorang pemuda Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala kecil, lalu menggantungkan kapaknya di leher berhala yang paling besar untuk memberikan pelajaran kepada kaumnya bahwa menyembah berhala itu (tuhan selain Allah Subhanahu wa ta’ala) sama sekali tidak ada manfaatnya.
Kedua, pemuda harus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (curiosity) untuk mencari dan menemukan kebenaran atas dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan. Artinya, tidak pernah berhenti dari belajar dan menuntut ilmu pengetahuan (QS. Al-Baqarah: 260).
Ketiga, pemuda harus selalu berusaha dan berupaya untuk berkelompok dalam bingkai keyakinan dan kekuatan akidah yang lurus, seperti pemuda-pemuda Ashabul-Kahfi yang dikisahkan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam QS. Al-Kahfi: 13-25. Jadi, berkelompok bukan untuk hura-hura atau sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
Keempat, pemuda harus selalu berusaha untuk menjaga akhlak dan kepribadian sehingga tidak terjerumus pada perbuatan asusila. Hal ini seperti kisah Nabi Yusuf dalam QS. Yusuf: 22-24.
Kelima, pemuda memiliki etos kerja dan etos usaha yang tinggi serta tidak pernah menyerah pada rintangan dan hambatan. Hal itu dicontohkah pemuda Muhammad yang menjadikan tantangan sebagai peluang hingga ia menjadi pemuda yang  bergelar al-amin (tepercaya) dari masyarakatnya.
Jika setiap pemuda memiliki karakteristik sebagai yang disebutkan, mereka akan dapat menghadapi kehidupan ini dengan baik. Terlebih lagi permasalahan atau problem kehidupan secara individu atau secara komunal bahkan secara nasional/internasional semakin memprihatinkan. Dengan demikian pemuda siap atau tidak siap akan berhadapan dengan situasi kehidupannya.
Problem Kehidupan di Negara Islam
Kalau kita sejajarkan negeri-negeri Islam mulai dari negara-negara Islam di Timur Tengah hingga Indonesia, umumnya masih dibelit kemiskinan struktural maupun kultural. Apalagi kalau kita tukikan pandangan ke negara-negara Afrika dan Asia Selatan, angka kemiskinan makin nyata. Sebut saja negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, seperti Nigeria, Sudan, Ethiopia, Senegal, Chad, atau Pantai Gading yang mayoritas Muslim, masih dibelit kemiskinan akut. Kematian akibat kekuragan gizi alias kelaparan masih menjadi pamandangan biasa di benua penduduk kulit hitam. Demikian pula negara-negara di Asia Selatan.
Terlebih lagi penyakit serupa juga melanda Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Umat Islam juga masih dibelit korupsi. Di antara problem krusial yang menyebabkan keterbelakangan umat Islam adalah korupsi. Korupsi memang gejala mondial, seiring dengan perkembangan kapitalisme yang merusak. Tetapi korupsi di negeri-negeri Muslim betul-betul telah bersifat destruktif. Ironisnya, terjadi pula resistensi atas gerakan antikorupsi.
Manajemen korup menyebabkan anggaran yang dialokasikan bagi peningkatan kesejahteraan warga hilang begitu saja. Konflik berkepanjangan di negeri-negeri Muslim juga problem tersendiri. Secara umum, ini global paradox, sebagaimana dikatakan John Naisbit dan Patricia Aburden (1990). Namun intensitas konflik di negeri-negeri Muslim sangat tidak masuk akal. Sering konflik itu terjadi di antara umat Islam sendiri. Kondisi paling memperihatinkan tentu gejala terorisme. Berbagai konflik yang terjadi di sejumlah negara berpenduduk mayoritas Islam lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal ketimbang internal di antara umat Muslim di negara-negara tersebut.
Terkait faktor eksternal tersebut, ulama terkemuka Suriah, Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili menegaskan, selama 14 abad negara-negara Arab hidup dalam damai. ”Sejak Amerika Serikat datang dan menanamkan pengaruhnya, justru terjadi perpecahan di negara-negara Arab.” Bila kejayaan Islam masa lalu muncul karena dakwah Islam yang banyak ditopang para pemuda Islam yang memiliki sikap perjuangan yang gigih, sanggup menyisihkan waktunya siang malam demi perjuangan Islam, maka demikian juga dengan masa depan Islam. Sunnatullah tidak berubah. Siapa yang unggul maka dialah yang memimpin.
Umat Islam di masa lalu, terutama para pemudanya, unggul karena mereka memeluk Islam secara kaffah, lurus akidahnya dan taat pada syariat. Untuk membangkitkan umat, diperlukan pemuda-pemuda yang mau bergerak secara ikhlas dan sungguh-sungguh untuk meraih kembali kejayaan Islam.  Pemuda yang dibutuhkan adalah para pemuda Islam sekualitas para sahabat yang memiliki tauhid yang lurus, keberanian menegakkan kebenaran serta memiliki ketaatan pada Islam.
Dengan dorongan peran pemuda, perjuangan penegakan kembali aturan Allah di muka bumi ini akan berlangsung giat sehingga Islam kembali tegak. Yakinlah pada diri kita bahwa kita mampu menjadi pribadi-pribadi Mmuslim yang tangguh dan berpengaruh seperti Ali bin Abi Thalib, Imam Syafi’i, dll.
Kreasi dan Potensi Pemuda
Pemuda memiliki potensi sangat besar dalam melakukan proses perubahan. Pemuda adalah sosok yang suka berkreasi, idealis dan memiliki keberanian serta menjadi inspirator dengan gagasan dan tuntutannya. Umat Islam saat ini sedang menantikan siapa yang akan mengembalikan bangunannya kembali, mengeluarkan mereka dari kejahiliahan, dan menyelesaikan problem-problem keumatan. Bukan hanya ulama, umara, politisi atau pengusaha yang mampu mengatasi problematika umat, tapi juga pemuda memiliki peran yang lebih penting.
Dengan segala potensi yang dimilikinya, pemuda-lah yang diharapkan mampu menyelesaikan problematika umat. Generasi muda adalah penentu perjalanan bangsa di masa berikutnya. Generasi muda mempunyai kelebihan dalam pemikiran yang ilmiah, selain semangat mudanya, sifat kritisnya, kematangan logikanya. Pemuda adalah motor penggerak utama perubahan. Pemuda diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejumudan masyarakat. Sehingga kita menyadari bahwa masa depan islam terletak diatas pundak para pemudanya. Merekalah yang memegang kendali bahtera Islam. Ke manapun mereka mau, ke sanalah bahtera itu melaju.
Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, kebangkitan Islam di masa mendatang dimanifestasikan oleh pemuda, dengan syarat mereka mempunyai kesadaran dan kecintaan penuh pada agamanya. Jika prasyarat ini gagal ditanamkan pada jiwa mereka, niscaya tragedi kebangkitan Islam tidak akan pernah berkumandang di dunia ini. Akibatnya sekularisme seperti di Turki akan terulang-ulang lagi di negeri-negeri Islam. Maka, lahirlah ataturk-ataturk baru yang mengagumi Barat beserta aturannya. Tentu kita tidak ingin sekulerisme ini terus terulang yang dapat mendatangkan murka Allah.
Oleh karena itu, satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah dakwah menyeru umat untuk kembali kepada Islam dan menanamkan kesadaran dan kecintaan penuh pada agamanya kepada para pemuda Muslim untuk bersama-sama berjuang demi kembali tegaknya Daulah Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian.

Peran Pemuda dalam Pengembangan Ekonomi Umat
Pemuda sebagai ujung tombak pembangunan Indonesia memiliki peranan penting dalam pengentasan kemiskinan. Upaya yang bisa mereka lakukan misalnya dengan membangun proyek kedermawanan sosial di era globalisasi ini. Para pemuda dapat melakukan berbagai cara agar umat muslim Indonesia senantisa memperbaiki dirinya agar memiliki kemampuan untuk menyejahterakan diri dan lingkungannya.
Melalui kegaiatan-kegiatan seminar, penyebaran opini, hingga kegiatan nyata seperti pembentukan BMT, Panitia ZIS dan semacamnya, para pemuda dapat mengingatkan bahwa ada permasalahan ekonomi umat yang harus segera diselesaikan. Mereka dapat mengingatkan umat Islam sebagai penghuni terbesar di negeri ini, agar bekerjasama menghadapi keterpurukan ekonomi dan sosial yang mereka alami.
Semangat kedermawanan sosial yang tinggi dapat diwujudkan melalui pengumpulan zakat infak dan sedekah. Sejumlah besar potensi zakat, infak dan sedekah yang dimiliki umat apabila dikelola dengan baik dan maksimal, akan dapat meningkatkan kualitas hidup di masyarakat. Dana ZIS yang dihimpun akan memberikan kontribusi besar pada banyak program kegiatan yang dibutuhkan masyarakat, yaitu: bidang pendidikan, bidang kesehatan, bidang ekonomi umat, dan bidang pengembangan pemuda.
Bidang pendidikan, zakat akan memberikan manfaat yang besar bila disalurkan untuk pendidikan anak-anak miskin dan terlantar. Dana ZIS diarahkan dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui kemudahan akses pendidikan, pembinaan yang terpadu dan pengembangan potensi anak baik di dalam ataupun di luar ruang sehingga membentuk SDM yang mandiri dan berkualitas. Contoh program pengelolaan ZIS adalah sekolah gratis bagi yatim piatu dan dhuafa, pemberian beasiswa asuh untuk kaum dhuafa, pengembangan potensi anak dan remaja.
Bidang kesehatan, dana ZIS diarahkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terutama kepada kesehatan ibu dan anak. Di antara program yang dilakukan adalah pemberian makanan tambahan gratis dan bergizi, khitanan massal, penanggulangan bencana, search and rescue.
Bidang pengembangan ekonomi umat, dana ZIS diarahkan memberikan program pemberdayaan masyarakat miskin di bidang ekonomi sehingga tercipta kemandirian dan peningkatan kesejahteraan. Salah satu contohnya pemberian Program Pemberdayaan dan Pendampingan Usaha, pendampingan usaha lokal dengan pengembangan usaha mikro kecil dan menengah.
Bidang pengembangan pemuda, dana ZIS diarahkan untuk memberikan program peningkatan peran pemuda melalui pengembangan karakter, pengetahuan dan keahlian. Contoh program antara lain pengembangan dan peningkatan kapasitas pemuda, mengenali potensi diri, motivasi, kewirausahaan, keahlian khusus, dan pembinaan akhlak.
Semangat membumikan nilai spritualitas menjadi kesalehan sosial membingkai gerak pengelolan ini sebagai mediator antara nilai kepentingan penderma dan mustahiq (penerima santunan). Antara yang memberi dan menerima, antara orang kaya dan mereka yang dhuafa sehingga kesenjangan sosial bisa semakin dikurangi jaraknya.
Oleh karena itu umat islam Indonesia perlu memiliki kader-kader pemuda yang mampu mengelola dan peduli terhadap permasalahan bangsa. Disinilah peran pemuda sangat dibutuhkan, program-program sosial yang ada dalam program ZIS akan sangat terbantu dengan keberadaan mereka. Para pemuda yang telah mendapatkan semangat kedermawanan sosial yang tinggi akan menjadi motor-motor penggerak semangat kedermawanan dalam kehidupan bermasyarakat..
Apa yang bisa dilakukan para pemuda saat hati mereka telah ditumbuhi semangat kedermawanan sosial? Pemuda dengan semangat kedermawanan sosial ini dapat menyebarkan semangatnya kepada muslim di sekitarnya. Apabila semangat itu telah menyebar dalam kehidupan masyarakat maka kehidupan mereka akan menjadi lebih baik, dan permasalahan-permasalahan sosial akan segera terselesaikan.
Khusus di Indonesia, jika pada masa pergerakan nasional, pemuda mampu mengajak masyarakat untuk melawan penjajah dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang memiliki semangat nilai universal, maka pada saat ini pemuda mengkritisi penguasa dengan membawa persoalan-persoalan dasar yang dihadapi oleh masyarakat. Hal mendasar itu di antaranya adalah masalah ekonomi yang berkaitan dengan kelangsungan hidup masyarakat. Masyarakat akan mendukung pemuda yang menyuarakan kegelisahan mereka.
Sementara jika pemuda mengusung masalah yang lebih advance, misalnya masalah pergantian kekuasaan, disamping kebanyakan masyarakat tidak peduli dengan hal itu, masyarakat tidak akan memberikan dukungan karena problem utama mereka masih seputar masalah ekonomi, disamping masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat secara umum.
Masalah kenegarawanan dan kebangsaan pemuda pada saat ini diuji dengan problema yang dihadapi oleh masyarakat banyak. Masalah politik dan kekuasaan di satu sisi sangat menarik untuk disuarakan oleh pemuda, namun melihat kondisi saat ini masalah ekonomi tidak kalah pentingnya. Para penguasa maju pun perlu memberikan perlakuan ekonomi khusus kepada rakyatnya agar tercipta kestabilan di dalam negerinya. Sementara pemerintahan di negara berkembang umumnya bersikap sebaliknya terhadap ekonomi rakyat secara umum. Pemuda memiliki peranan untuk mengkritisinya.
Kesimpulan
Pemuda dituntut mensikapi perubahan ekonomi global yang mengarah kepada penguasaan sumber-sumber daya di negara berkembang oleh para pengusaha negara maju dengan harga murah. Pemuda dituntut memiliki jiwa survivalitas ekonomi, baik dalam wacana maupun rencana aksi kongkrit.
Perekonomian yang sudah tergantung utang pada saat ini telah membuat perekonomian menjadi sangat liberal sebagai kompensasi pemberian bantuan oleh pihak donor. Liberalisasi telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian masyarakat banyak. Masyarakat tidak mampu mengakumulasi modal, hanya sekedar mempertahankan hidup, sehingga gagal meningkatkan mutu kehidupan mereka.
Survivalitas ekonomi mengendaki tumbuhnya jiwa kewirausahaan dan kesederhanaan. Jiwa kesederhanaan yang dimaksud adalah tidak menjadi tergantung dengan hutang, namun realistis dan optimis terhadap usaha sendiri yang maksimal. Hal ini perlu dilakukan pemuda karena sebagai agen perubah yang akan menjadi pengganti rezim penguasa, jiwa survivalitas ekonomi akan memupuk rasa ketekunan, kesabaran dan empati dalam mengelola ekonomi dan diharapkan mampu menghilangkan mental ketergantungan kepada orang maupun bangsa lain. Inilah reposisi yang diperlukan pemuda pada saat ini di tengah menguatnya ego kelompok, dominasi ekonomi kaum kapitalis dan krisis ekonomi.
Disadur dari: Pengusahamuslim.com

Nilai Artikel

0 Pendapat: