Kamis, 12 Agustus 2010

PROF DR KH DIDIN HAFIDHUDDIN, Cinta Ilmu, Cinta Guru

-->Oleh: Ir. Budi Handrianto MPdI (Peneliti INSISTS)



Siang itu, Sabtu 23 Juni 2007, sekitar 1000-an orang yang hadir di Graha Wisuda Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga terhening sejenak. Sang pembicara di atas podium tengah berusaha menahan haru sembari mengu sap air matanya. Ya, berdiri di atas podium itu adalah Didin Hafidhuddin, yang tengah membacakan ucapan terima kasih kepada guru-gurunya pada saat acara orasi ilmiah dalam rangka pengukuhannya sebagai guru besar di IPB. Satu persatu guru yang sangat berjasa mulai dari guru TK, SD/SR-nya, SMP sampai perguruan tinggi, guru di pesan trennya hingga seniornya para tokoh/ulama terkenal seperti M. Natsir, KH Sholeh Iskandar, KH Abdullah bin Nuh, KH. Abdullah Syafii, KH. Noer Ali, Dr. Anwar Haryono, KH. Hussein Umar, KH. Rahmat Abdullah, dan lain-lain. Bahkan supir pribadinya pun tak ketinggalan disebutkan.

Siapa tak kenal Ustadz Didin? Pang gil an akrab Prof. Dr. KH. Didin Hafidhud din, MS. Di pesantren yang diasuhnya, Ulil Albaab, ia akrab disapa dengan “Pak Kyai”. Ulama yang santun namun aktif bergerak ini menuturkan pengalaman yang menyebabkan dirinya menjadi seperti saat ini.
“Saya bersyukur kepada Allah bahwa saya lahir dari keluarga yang cinta kepada ilmu,” tuturnya. Ayahnya, KH Mamad Ma’turidy, seorang kyai atau dalam bahasa Sunda disebut ajengan merupakan dzuriyyah atau keturunan yang juga kyai. Uwak (paman)-uwaknya juga kyai, di antaranya cukup terkenal yaitu KH. Anwar Sanusi dan KH. Dadun Abdul Kohhar.
Apa yang menjadi rahasia sukses kakek dari ustadz Didin sehingga keturunannya bisa menjadi kyai semua. Ternyata, rahasianya cukup sederhana yaitu cinta kepada ilmu dan cinta kepada guru. “Jadi siapa saja orang yang memberikan ilmu kepada anak-anaknya, banyak atau sedikit ia hormati,” begitu kenang Ustadz Didin. Sang kakek juga dikenal, kalau mengirim biaya untuk anaknya belajar, ia juga mengirim biaya untuk gurunya. Dan nilainya sama persis. Jadi kalau putranya (maksudnya ayah Ustadz Didin) belajar pada seorang guru dikirim biaya -misal kan sekarang Rp 500.000/bulan, ia juga mengirim sejumlah itu pada gurunya. Hal itu yang diterapkan pula oleh ayah Ustadz Didin kepadanya ketika nyantri di pesantren Cibadak. Jadi dalam proses belajar mengajar ada hubb atau kecintaan terhadap guru karena kecintaannya terhadap ilmu. Itu yang sekarang ini kurang terlihat di pendidikan umum. “Orang berpikir, mengirim anak untuk belajar ya sudah selesai dengan membayar sekian-sekian. Sampai di situ saja. Tidak ada hubungan batin antara orang tua, anak dan guru,” kata Ustadz kelahiran 21 Oktober 1951 ini.

Ustadz Didin belajar agama mula pertama dari orang tuanya. Dan ia mulai belajar dari tafsir, bukan dari ilmu alat. Dari tafsir tersebut ia diperkenalkan dengan Al Quran sebagai pedoman hidupnya. iapun disuruh menghafal ayat-ayat penting beserta tafsirnya. Hadits pun diajarkan bahkan kitab hadits arbain ia harus hafalkan. Metode ini sangat ber pe ngaruh terhadap pembentukan karakternya. Dari sinilah ia berpendapat bahwa Al Quran dan Sunnah harus diperkenalkan secara intensif kepada anak sedini mungkin. Kemudian apa bila mau belajar apa pun setelah itu ilmu lain silahkan saja. Kalau landasannya su dah kuat yaitu dari Al Quran dan Sunnah sampai kapanpun tidak akan tersesat. Selain itu, menurutnya, anak akan memiliki pe mikiran yang komprehensif. Sebab al Qur an itu bukan hanya ilmu pengetahuan semata tapi juga ada semangat di situ, ada ruh atau spirit di dalamnya. Berbeda dengan kitab-kitab yang lain. Ruh atau spiritnya nggak ada. hanya sekedar ilmu pengetahuan saja.

Yang menarik dari pendidikan orang tuanya waktu kecil, selain mengajar ilmu kepadanya, sang ayah juga mengajaknya untuk hadir di pengajian-pengajian yang diasuhnya. Walaupun kadang Ustadz Didin kecil hanya tidur saja di sana. Tapi di situ ada pendidikan rihlah da’wiyah yaitu pengenalan terhadap perjalanan dakwah secara tidak langsung. Dari situ akan timbul kecintaan terhadap umat dan masyarakat serta berbagai pengenalan problematika dakwah yang dihadapi.
“Saya sering diajak dakwah dengan berjalan berkilo-kilo untuk menghadiri pengajian. Pengajian mualimin namanya,”aku lelaki lima anak ini. Bahkan seringkali ketika sudah agak besar ia sering disuruh membaca kitab tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Kitab yang dibaca adalah kitab yang diajarkan sang ayah kepada kyai-kyai yang belajar kepadanya. Rupanya itu adalah proses kaderisasi yang dilakukan sang ayah kepadanya secara tidak langsung. Tujuannya adalah untuk menanamkan kepercayaan kepada jamaahnya bahwa anaknya itu bisa diandalkan, bisa dipercaya. Dan hal itu menurut Ustadz Didin sistem kaderisasi yang luar biasa efektif. Sekarang ini banyak anak kyai baru tampil setelah ayahnya meninggal.

Ustadz Didin sekolah di sekolah umum (SMP dan SMA). Di sana ia aktif di pengajian. Berbagai macam aktivitas diikutinya, terutama kegiatan yang mendukung aktivitas dakwah. Ia pun pernah menjuarai pidato tingkat sekolah waku di SMP. “Hanya saja waktu itu belum ada pildacil, jadi belum terkenal…..” katanya sambil tertawa. ia juga pernah satu panggung untuk berpidato bersama dengan Prof. Dr. Hazairin, profesor yang terkenal waktu itu. Kebetulan profesor tersebut diundang dalam sebuah acara di pesan tren uwaknya KH Dadun (waktu SMP, Ustadz Didin dititipkan kepada uwaknya ini. Waktu itu ada acara kuliyatul mualimin, suatu acara besar di mana Ustadz Didin muda tampil bersama sang profesor.

Selain di lingkungan pengajian, pengkaderan di sekolah pun dilakukan. Ustadz Didin sewaktu SMP dan SMA berada di sekolah umum sehingga tantangan dakwahnya lebih banyak. Dengan demikian ia lebih banyak berinteraksi dan berpolemik dengan kelompok di luar Islam seperti sosialis dan nasionalis. Pada waktu SMA, Ustadz Didin juga pernah menjabat sebagai ketua PII (Pelajar Islam Indonesia).

Memasuki bangku kuliah Ustadz Didin makin bertambah aktivitasnya. Waktu itu ia sudah dakwah di mana-mana. Memang lulus SMA ia tidak langsung kuliah karena nyantri dulu di sebuah pesantren di Sukabumi, yang letaknya cukup jauh dari rumahnya sehingga ia harus berjalan kaki jauh. Di situ ia khusus mendalami ilmu-ilmu agama seperti tafsir al Quran, hadits, fiqh, ushul fiqh dll. Baru kemudian ia meneruskan perguruan tinggi di IAIN Jakarta.

Di masa-masa akhir perkuliahan ia mulai diajak oleh KH Sholeh Iskandar, ulama terpandang di Bogor waktu itu. Kyai Sholeh adalah Ketua BKSPP (Badan Kerjasama Pondok Pesantren). Ustadz Didin sering diajak ngaji, diajak organisasi (sempat menjadi sekretaris BKSPP Jawa Barat) dan diajak berkenalan de ngan ulama maupun tokoh nasional. Di sini Ustadz Didin merasa sedang dikader oleh Kyai Sholeh untuk mengenal perjuangan dakwah lebih dalam lagi. Di si tulah pula ia diperkenalkan dengan Pak Natsir.

Perkenalan pertamanya waku itu dengan Pak Natsir di PP Darul Falah. Ketika itu sedang disusun pendidikan Islam di mana masjid, pesantren dan kampus terintegrasi menjadi satu. Ketika itu Ustadz Didin merasakan sosok luar biasa dari seorang Muhammad Natsir. Ia waktu itu masih muda sekali. Belum dikenal siapa-siapa. Tapi Pak Natsir yang pada waktu itu sedang pada puncak-puncaknya, memberi perhatian luar biasa terhadapnya. Pemikiran yang dilontarkan Ustadz Didin sering diterimanya. Dari pertemuan-pertemuan itu jadilah Pesantren Ulil Albab yang menyatu dengan Kampus Universitas Ibn Khaldun dengan Masjid Al Hijri di dalamnya. Konsep ini lahir untuk mem-back up mahasiswa yang mempunyai ilmu kealaman yang tinggi tetapi hatinya dekat dengan Allah dan dekat dengan pesantren.

Saat ini, suami Nining Suningsih ini, dikenal sebagai ulama yang aktif menyerukan zakat, ekonomi syariah maupun perbankan syariah. Keterlibatan di dunia itu bukan sesuatu yang disengaja. Kala itu ia diminta mengisi rubrik zakat di harian Republika oleh Pemimpin Redaksi Harian itu, Zaim Ukhrawi sekaligus menjadi pembina Dompet Dhuafa Republika. Mulailah Ustadz Didin dikenal sebagai “Ustadz Zakat”. Karena zakat merupakan bagian dari ekonomi syariah mulailah ia mengembangkan diri mempelajari ekonomi syariah.

Dari ekonomi syariah ini ia mendapat pelajaran bahwa ilmu itu tidak boleh bebas nilai. Memang sebetulnya tidak ada ilmu yang bebas nilai. Mengapa ekonomi sekarang menciptakan jurang yang lebar antara di kaya dan si miskin? Karena sistem perekonomian yang dianut seka rang adalah sistem ekonomi kapitalisme dan liberalisme. Suatu sistem ekonomi yang hanya melihat keuntungan semata. Segala sesuatu diuangkan dengan paradigma modal yang sekecil-kecilnya harus mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Itulah akibat kalau ilmu dianggap bebas nilai. Sebetulnya bukan bebas nilai, tapi bebas nilai-nilai ketuhanan dan sarat dengan nilai kapitalisme.

Menurutnya, ilmu modern -termasuk ilmu ekonomi yang dipandang bebas nilai telah melahirkan egoisme dan kesombongan. Dengan pandangan bebas nilainya mereka beranggapan bahwa semua persoalan bisa diselesaikan dengan ilmunya. Ahli ekonomi merasa bisa menyelesaikan persoalan masyarakat dengan ilmu ekonominya. Padahal jangankan menyelesaikan problema masyarakat, menyelesaikan problem ekonomi saja tidak mampu. Oleh karena itu ke depan, menurut Ustadz Didin apabila ingin membangun peradaban Islam, ilmu-ilmu itu harus diislamisasi, tidak boleh dipandang netral.

Nabi saw bersabda bahwa pedagang yang jujur/terpercaya itu bersama para syuhada. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, ilmu ekonomi tidak sekedar masalah duit, tapi juga masalah nilai-nilai agama, ideologi dan juga pandangan hidup.
Oleh karena itu ilmu ekonomi syariah ini harus dikembangkan juga di perguruanperguruan tinggi umum.
Ustadz Didin kini memegang banyak amanah. Di bidang sosial, ekonomi dan kemasyarakatan ia memegang 24 jabatan. Kurang lebih 25 bukunya telah diterbitkan. Prestasinya di bidang akademispun tidak main-main. Ia pernah menjadi sarjana muda terbaik IAIN Jakarta (1976), sarjana terbaik IAIN Jakarta (1980), Magister Sains terbaik IPB (1987) dan Doktor terbaik UIN Syarif Hidayatullah (2001). Namun ia tetap tawadhu’ dan rendah hati.

SUMBER:

Nilai Artikel

1 Pendapat:

abenk mengatakan...

salam kenal........
check it out.. FOLLOW ME
BLOG SAYA