Jumat, 09 November 2012

Peran Shariapreneur Dalam Meningkatkan Kemandirian Ekonomi Bangsa Menuju Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan


Oleh: Punto Jatmiko
(Manager of Research and Developmet KEI FE UNS)

Dari kiri: Ali Imron, Prof. Bambang Setiaji, Saptuari Sugiarto
Solo, 6 Oktober 2012 Seminar bertemakan shariapreneur dalam mewujudkan kemandirian perekonomian Indonesia ini diselenggarakan di gedung MTA Ngarsopuro Solo, Sabtu 6 oktober lalu merupakan hajatan akbar dua tahunan yang dipromotori oleh Kajian Ekonomi Islam (disingkat KEI) Fakultas Ekonomi UNS. KEI FE UNS merupakan sebuah organisasi mahasiswa yang concern di bidang ilmu ekonomi Islam. Dalam seminar kali ini KEI FE UNS bekerjasama dengan Pemuda MTA memanggil narasumber terkemuka yang sudah berpengalaman dalam ekonomi Islam dan  kewirausahaan syariah yaitu Prof. Bambang Setiaji yang merupakan Komisaris Bank Bukopin Syariah dan Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta saat ini, kemudian Prof. Muhammad, M.Ag yang sudah malang melintang di dunia akademisi ekonomi Islam, lalu Dra. Hj. Rustriningsih, M.Si, kemudian promotor wirausaha yakni Saptuari Sugiharto yang berasal dari kota gudeg, kemudian yang terakhir ditutup oleh menteri pemuda dan olahraga periode 2004-2009 yaitu Adyaksa Dault dengan sangat mengesankan.
KEI FE UNS mengangkat tema ini mengingat jumlah pengusaha di Indonesia baru sebanyak 1,56% dari total jumlah penduduk di Indonesia. Padahal menurut sebuah hasil penelitian mengatakan bahwa kondisi perekonomian suatu negara yang standar adalah memiliki 2% pengusaha dari jumlah penduduk. Hal ini masih cukup jauh mengingat jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 295 juta jiwa.  Maka dalam kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman bagi masyarakat secara umum terkait kondisi perekonomian Indonesia dan juga diharapkan mampu memotivasi masyarakat untuk membuka usaha dengan menumbuhkan nilai-nilai Islam didalamnya.
Pada sesi pertama yang seharusnya diisi oleh Dra. Hj. Rustriningsih, M.Si namun beliau berhalangan hadir kemudian digantikan oleh Kepala Bagian Perkonomian Jawa Tengah Edi Sulistyo Bramantyo, SE. MM. beliau menjelaskan terkait perkembangan industri syariah di Indonesia dan di dunia. Beliau menyatakan bahwa perekonomian yang didasarkan atas sistem syariah terbukti mampu menghadapi ancaman krisis seperti halnya krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1998 kemarin dan membuktikan bahwa bank syariah tetap berdiri tegak sedangkan beberapa bank konvensional yang lain dalam ancaman besar. Bukti lain juga terlihat dari banyaknya negara yang menerapkan sistem syariah pada industri perbankan yang notabene bukan negara muslim. Hal tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa sistem syariah merupakan rahmatan lil`alamin.  Oleh karena itu pemerintah dan masyarakat perlu melakukan sinergisasi guna mendorong industri syariah berkembang agar dapat memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Kemudian dalam materi kedua yang di sampaikan oleh Prof. Muhammad yaitu mengenai pengembangan sharia entrepreneurship di Indonesia. Kewirausahaan merupakan faktor produksi yang sangat strategis dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi suatu bangsa. Kewirausahaan merupakan motor inovasi dan pertumbuhan ekonomi nasional, serta simulator peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kewirausahaan juga merupakan pondasi yang kokoh bagi pembangunan ekonomi, sosial dan politik yang lebih demokratis, karena melalui kewirausahaan mampu membangu kemandirian masyarakat. Oleh karena itu kewirausahaan harus menjadi prioritas dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan daya saing bangsa.
Dalam materi yang di sampaikan Prof. Muhammad bahwa beliau memaparkan strategi dan tujuan dalam berwirausaha, yaitu kegiatan perdagangan untuk mencari keuntungan, berdagang adalah hobi, berdagang adalah ibadah, berdagang merupakan salah satu perintah untuk bekerja keras, dan yang terakhir adalah berdagang atau berwirausaha merupakan pekerjaan mulia dalam Islam. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa untuk meraih kesejahteraan dunia dan akhirat, Islam tidak hanya mengajarkan kepada pemeluknya untuk beribadah mahdah, tetapi juga sangat mendorong umatnya unyuk bekerja keras, terbukti secara nyata yaitu baginda kita Rasulullah SAW sebagai suri teladan dan pemimpin umat muslim menjadi seorang pengusaha mulai dari beliau masih berusia sangat muda.
Berlanjut pada sesi kedua setelah makan siang, dilanjutkan kembali dengan materi yang dibawakan oleh Prof. Bambang Setiaji sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta. Beliau menjelaskan mengenai aktivitas kegiatan syariah pada masyarakat multikultural dimana terjadi perbedaan struktur maupun budaya di berbagai tempat di seluruh penjuru dunia.Syariah Islam selama ini sudah diterima sebagai sistem ganda dengan adanya Departemen Agama, pendidikan agama, dan guru agama yang bisa menjangkau sampai pedesaan dan pedalaman. Di samping itu, hukum pernikahan, hukum warisan merupakan domain departemen agama. Di sisi lain, perkembangan bank syariah yang diperkuat oleh seluruh bank milik pemerintah pusat dan daerah merupakan penerapan syariah yang dapat diterima. Bank syariah umumnya bergerak di sektor ritel yang sangat membantu usaha kecil dan menengah. Ke depan, syariah zakat bisa juga dikawinkan dengan Departemen Keuangan sebagaimana syariah perbankan dikawinkan di Bank Indonesia (BI).
Setelah Prof. Bambang selesai kemudian dilanjutkan oleh Saptuari Sugiharto. Pada sesi siang yang cukup serius tersebut, beliau memberikan sajian materi yang meriah agar peserta tidak mudah mengantuk. Dengan guyonan yang lucu namun tetap pada materi tersebut, Saptuari Sugiharto yang merupakan CEO dari Kedai Digital menceritakan pengalamannya mengenai perjuangannya dari nol menjadi sukses seperti saat ini. Beliau pun menjelaskan manis pahitnya saat memulai wirausaha tersebut mulai dari berjualan stiker, ayam potong, sampai jualan donat di kampusnya.
Beliau pun memberikan resep sukses yang salah satunya adalah untuk tidak lupa bersedekah kepada sesama, kepercayaannya mengenai sedekah dapat melipatgandakan rizki ternyata benar adanya. Dalam sesi tersebut dijelaskan bahwa peluang pemuda dalam berwirausaha sangatlah besar karena peluang untuk kembali bangkit masih besar saat mengalami kegagalan, namun masih banyaknya pemuda yang belum siap atau enggan untuk memulai berwirausaha. Tentunya menjadi inspirasi bagi peserta yang hadir pada hari itu dimana kemajuan pembangunan tentunya berada di tangan pemuda Indonesia saat ini.
Kemudian sampailah pada sesi terakhir yang dibawakan oleh Adyaksa Dault, dengan pembawaan yang berapi-api dan penuh semangat, beliau dapat mengajak penonton untuk lebih bersemangat lagi dalam membangun negeri ini. Beliau menyampaikan banyak hal mengenai gambaran kondisi pemerintahan di Indonesia saat ini yang mengaju pada buku beliau yang berjudul “Menghadang Negara Gagal, Sebuah Ijtihad Politik”. Beliau juga menegaskan, bahwasanya Islam itu adalah solusi dari semua permasalahan yang pada khususnya ekonomi. Islam adalah jawaban atas segala kontemplasi permasalahan yang ada, namun, ironisnya, manusia sekarang lebih condong mainstream, minim komunikasi antar sesama tetangga rumah serta bersifat pragmatis. Seharusnya pemuda sebagai penerus bangsa dapat mencegah pola piker yang saat ini sedang terjadi.
Setelah pemaparan tadi, dapat disimpulkan bahwa salah satu pondasi pembangunan ekonomi Indonesia adalah wirausaha. Namun melihat realita yang ada bahwa angka tersebut masih sangatlah minim untuk dapat mengejar pembangunan ekonomi negara. Maraknya liberalisme yang terjadi di Indonesia membuat para pengusaha gulung tikar, kebijakan perdagangan bebas yang memberatkan rakyat kecil, serta kurangnya sinergisasi antara pemerintah dan pengusaha menjadikan perekonomian Indonesia berada di tingkat yang tergolong rendah. Islam sebagai agama yang universal dan terbuka bagi seluruh elemen yang ada merupakan solusi dari permasalahan tadi. Bayangkan bahwa dengan menumbuhkan nilai-nilai Islam pada setiap aktivitas maka tidak akan terjadi ketimpangan dalam suatu negara khususnya ekonomi, karena dalam hukum Islam diajarkan untuk saling peduli terhadap sesama atau prinsip kemakmuran.
Sinergisasi antara pemerintah, lembaga keuangan, serta sektor swasta sangatlah penting untuk dapat mendorong kontribusi shariapreneur dalam membangun perekonomian Indonesia. Aktualisasi nilai-nilai Islam dalam setiap aktivitas ekonomi merupakan upaya konkret dalam mewujudkan pembangunan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan, dimana peran atau partisipasi shariapreneur menjadi penting untuk dikembangkan. Jika solusi ini dapat berjalan dan diamalkan dengan benar maka optimis pun dapat dirasakan masyarakat Indonesia demi tercapainya pembangunan negara yang berkelanjutan.



0 Pendapat: